1435 #12—PutrisafirA255

91 copy

1435—Better Than Before

.

Story and art from PutrisafirA255

.

Cast

Oh Sehun-Kim Hanna

Byun Baekhyun- Helena Jung

Other Cast

Jung Hyejin-Min Yoongi

etc

.

Genre

Marriage Life, Romance, AU, Fluff, Drama, Family, etc.

.

PG-16

.

Hope you like it and give me comment as appreciation

.

PutrisafirA255©2016 | Blackandwhite

.

Prolog  #1 [Restart] | #2[Propose] | #3 [Could I?]

| #4[The Past] | #5 [The Wedding] | #6 [After Many Years] | #6 [After Many Years] | #7 [The Secret]

| #8 [Jealously] | #9 [Bad Dream] | #10 [Look at Me!] |

|#11 [Heal Me Then] | #12 [Better Than Before] (NOW)

.

.

.

Mentari sudah berbalik dari singgasananya. Suara kendaraan yang memadati kota Seoul juga sudah berisik di luar sana. Hanna, dengan rambut hitam basahnya, dan juga Nara dengan selembar roti ditangan sudah hendak mengawali kegiatannya hari ini. Namun, bukan berarti si jangkung juga sama. Pria itu justru masih mengukir senyum dengan pakaian santai rumahan dan menghampiri keduanya.

“Selamat pagi!” sapanya, mengukir langkah terlebih dahulu menuju Hanna dan mencium puncak surainya yang masih basah, setelahnya melakukan hal yang sama pada putri kesayangannya. “Mau ayah antar, Nara?” Sehun mengajukan pertanyaan, yang tidak selanjutnya tak disetujui oleh si empunya nama. “Aku mau berangkat dengan Han ahjussi,”

Tak berkecil hati, Sehun malah menggendikkan bahunya acuh. “Baiklah,” gumamnya, sejurus kemudian sibuk bersama selembar roti dan selai kacang di atas meja. Berbeda dengan Sehun yang agaknya gembira, Hanna justru diam-diam mengumpat dalam hati. Bagaimana pria itu bisa berakting dengan baik, setelah semua yang terjadi? Inilah yang menjadi pertanyaan untuk mengawali pagi buruknya.

“Han, jam sepuluh aku ada rapat.” Tutur Sehun memberitahu, tapi Hanna tak membalasnya. Memangnya, kalau rapat mau apa? Toh, Hanna juga tak bisa membantu. “Oh Hanna?” Sehun memanggil namanya dengan marga yang baru. Ah, benar! Karena ia baru saja memanggil sang istri dengan marganya, ia jadi teringat dengan pertengkaran kemarin.

Mungkin, Sehun memang patut dilabeli pria bodoh ber-IQ tinggi. Bagaimana tidak? Disaat hubungan mereka membaik, Sehun justru menciptakan perselisihan baru dengan meminta Hanna mengganti marganya. Sebenarnya, itu memang benar karena mereka sudah menikah dan marga Kim sudah seharusnya diganti. Tetapi, Hanna bersikeras tetap menggunakan marga ayahnya untuk selalu mengenang beliau. Ya, singkat cerita seperti itu. Sayangnya, ujung permasalahannya tak sesingkat ceritanya.

“Aku sedang tak punya tenaga untuk berdebat dengan—”

Guk..guk..guk..

Belum selesai Hanna mengungkapkan argumennya, suara gonggongan anjing terdengar hingga ke telinganya. Tunggu, sejak kapan rumah ini punya anjing? Batin Hanna bergelut. Oh, ini akan menjadi masalah yang besar jika memang benar-benar ada anjing di sana. Pasalnya, Hanna gadis Kim—ralat—gadis Oh itu sangat tak suka dengan anjing.

“Han?” panggil Sehun lagi, rautnya agak bingung. “Kau baik-baik saja?” tanyanya memastikan.

Hanna menggeleng, tak perlu berbohong jika dirinya baik-baik saja. Maka dari itu, ia mengajukan pertanyaan yang mengejutkan Sehun. “Itu tadi bukan suara anjing, ‘kan?” Hanna mencoba mengajukan pertanyaan untuk dijadikan sebagai landasan agar dirinya tak menciptakan keributan. Sayangnya, semua tak seperti yang ia inginkan. Sehun menjawabnya melalui menganggukkan kepala. “Kau pikir itu suara kucing?”

Belum selesai keterkejutan yang diterima Hanna, seekor anjing berbulu putih menghampirinya dengan sedikit berlari. Sontak, si gadis pun memekik ketakutan. Memanggil silabel nama sang suami dengan lantang guna membangun pertahanan. Ia bahkan berlari demi mencapai Sehun yang tersenyum lebar. Oh, sekarang Sehun tahu bagaimana Hanna sebenarnya.

“Sehun! Singkirkan anjing itu!” pintanya di belakang punggung tegap Sehun. Tak lupa beberapa pukulan di berikan lantaran si jangkung tak mau segera menuruti. Ia malah menggendong anjing itu dan menunjukkannya pada Hanna. “Dia hanya anjing, Han. Namanya Vivi.”

Demi Tuhan! Melihatnya saja Hanna tak mau, apalagi mengenalnya. “Sehun, aku serius! Buang anjing itu!” Sekali lagi Hanna memekik ketakutan, namun berkali-kali Sehun membujuk istrinya itu untuk lantas menerima si hewan peliharaan. Keributan pun tercipta, Nara juga sosok gadis di sampingnya menjadi penonton seumpama drama.

“Sehun, berikan Vivi padaku.” Ujarnya, menginterupsi kegiatan seru yang diciptakan oleh sang pemilik rumah. Menurut untuk mengakhiri, Sehun akhirnya melepaskan anjing berbulu putih itu dan membiarkannya berlari menuju dirinya. “Hai, kau Kim Hanna—istrinya Sehun, bukan?”

Mendengar itu, Hanna menolehkan kepalanya juga setelahnya menelisik. Mengedarkan pandangan dari atas ke bawah, lalu sebaliknya. Sekarang, Hanna ingat siapa gadis itu. Gadis yang tiba-tiba ada ketika dirinya juga Sehun bertengkar dan Kai sebagai pelengkap pertengkaran itu juga. “Kenalkan aku Bae Joohyun.”

Well, Hanna tak mau tahu tentang itu. Namun, yang menjadikan pusat fokus Hanna adalah bagaimana cara gadis Bae itu menatap suaminya. Kalimatnya juga terlalu informal untuk ukuran kolega ataupun bawahan. Menyambut uluran tangan, Hanna pun membalas. “Oh Hanna. Senang bertemu denganmu,”

Dan disaat untaian silabel itu terucap, satu-satunya manusia yang begitu terkejut adalah Sehun. Bukankah semalam mereka berdebat mengenai marga itu? Dan sekarang Hanna menggunakannya. Jika seperti ini, sudah dipastikan bahwa ada sesuatu dibaliknya. Semacam kecemburuan tak berdasar? Mungkin saja. Pikir Sehun menyukainya.

Berbanding terbalik dengan Hanna yang cemburu mengenai kedatangan gadis itu, Joohyun malah tersenyum, seperti yang Sehun lakukan. “Akhirnya kita bertemu juga, Hanna-ssi. Sehun sering sekali menceritakan tentang dirimu. Katanya kau pandai memasak,” kalimat terakhir dikumandangkan Joohyun dengan teramat pelan, seolah tak membiarkan Sehun mendengar.

Hanna menoleh pada Sehun yang justru menggendikkan bahunya. Gadis itu mencibir dalam hati, memangnya kapan Hanna pernah memasak? Ya, meskipun ia memang bisa melakukannya, bukan berarti Sehun harus memuji dirinya di depan orang lain, ‘kan? Tapi, mungkin itu lebih baik jika Sehun mengucapkannya pada Joohyun. Diam-diam, gadis itu juga memasukkan nama Joohyun sebagai blacklist-nya.

“Bukankah sebagai ‘istri’ sudah seharusnya pandai memasak?” tukasnya lembut, namun kentara sekali menekankan pada satu kata. Joohyun hanya bisa mengangguk. Gadis itu tak tahu harus bagaimana lagi untuk menghadapi istri Sehun. Pasalnya, Joohyun merasa bodoh lantaran masih saja memendam perasaan disaat ia dihadapkan sendiri dengan istri dari pria yang disukainya.

Merasakan kecanggungan yang luar biasa—secara tiba-tiba—merasuki konversasi mereka bertiga, Sehun akhirnya memecahnya dengan ajakan sarapan yang malah menabuh genderang perang. “Bagaimana kalau kau sarapan di sini, Joohyun-ah?”

Menatap Sehun dengan tatapan maut tak terbantahkan, Hanna beralih pada Nara yang bermain dengan Vivi di samping Joohyun. “Nara sayang, kau harus berangkat ke sekolah, bukan?” ujarnya, mengingatkan akan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Maka dari itu, Nara kemudian menganggukkan kepalanya, lantas membungkukkan badannya. “Aku berangkat!” serunya.

.

.

.

.

Ketiganya makan dalam diam—sangat canggung. Keterdiaman Hanna yang sedari tadi hanya menimpali beberapa kata berhasil membuat Sehun bungkam. Dan satu-satunya suara yang menginterupsi ketiganya adalah sosok jangkung Chanyeol yang entah bagaimana caranya bisa masuk. Padahal, keamanan begitu ketat semenjak kejadian yang menimpa Nara.

“Han, aku perlu bicara denganmu.” Telak, raut muka Chanyeol yang biasanya jenaka tak lagi mampu membuat Hanna tertawa. Si gadis ikut serius, tak sekalipun menyanggah keinginan si pria Park, meskipun Sehun sudah melancarkan amunisi pertahanan.

“Aku tak bisa meninggalkan kalian berdua,”

“Kami harus bicara, Hun.” Hanna segera menimpali, kemudian mengajak Chanyeol menuju ruang tengah dan meninggalkan Sehun juga Joohyun berdua di ruang makan. Well, sekarang Hanna tak lagi peduli dengan mereka berdua. Karena, keseriusan Chanyeol yang tak biasa ini membuat fokusnya tertuju penuh padanya.

Disamping itu, Sehun sendiri sudah dilanda kecemburuan akut. Hanna dan Chanyeol—mantan kekasih yang pernah bersama itu—mereka hanya berdua, berbicara serius yang tidak bisa ia ketahui. Ya, katakanlah Sehun berlebihan dalam menanggapi percakapan keduanya, padahal irisnya bisa melihat mereka hanya sekedar berbicara. Tapi, bagaimana jika ada makna terselubung di dalamnya? Seperti meminta Hanna kembali padanya? Tak mustahil, ‘kan?

“Sehun?”

Joohyun mengambil atensi Sehun sejenak. Si pemilik nama kemudian menoleh, mendapati Joohyun yang menatapnya dengan kekehan di bibir. “Mengapa kau tertawa?” tanya Sehun bingung, melihat Joohyun tiba-tiba saja menertawakannya. Setelah mereda, barulah Joohyun menjawab, “Kau sangat cemburu pada Chanyeol, hm?”

Alih-alih membenarkan, Sehun menaikkan sebelah alisnya. “Kau mengenal Chanyeol?”

Joohyun mengalihkan pandangannya pada Chanyeol yang masih berbicara pada Hanna. “Dia salah satu pria yang pernah aku sukai. Klise sebenarnya, dia pria populer di kampusku. Padahal kami berbeda jurusan.” Jelasnya, lantas menundukkan kepalanya—ia menertawakan dirinya sendiri yang terlalu bodoh untuk urusan memilih cinta.

Ah, sekarang Sehun mengerti, oleh karena itu ia mengajukan pertanyaan. “Kau sudah tak menyukainya? Hanna kemarin bercerita kalau sekarang pria itu menyendiri.” Joohyun hampir tersedak roti lapisnya jika tak segera membasahi tenggorokan dengan teh yang disiapkan Hanna sebelumnya. “Apa kau bilang? Playboy seperti dia menyendiri?”

“Hey, asal kau tahu. Mungin dia memang playboy, tapi jangan ragukan kesetiaannya. Aku berani menjamin itu.” Sehun membela Chanyeol, merasa mereka sama-sama kaum adam. Tetapi, itu tak berhasil membuat Joohyun tak mencibir dalam hati. “Aku mencintai seseorang, tapi sayangnya dia sudah menikah. Aku masih butuh waktu untuk menyembuhkannya.” Tutur si gadis Bae.

“Benarkah? Mengapa kau tak pernah bercerita? Memangnya siapa pria itu? Ceritakan, Bae Joohyun!”

Serentetan pertanyaan itu membuat Joohyun berteriak dalam hati. Siapa lagi jawabannya selain Oh Sehun? Kebodohan dan ketidakpekaan yang dimiliki Sehun terlalu tinggi. Tetapi, jika Sehun mengetahui mengenai perasaannya, pria itu pasti akan menghindarinya. Itu bukanlah opsi yang baik untuknya.

“Malah melamun,” Sehun mencibir. “Baiklah jika kau tak mau bercerita. Tapi, aku berharap kalau kau akan mendapatkan pengganti yang lebih baik.” Harapnya tulus. Joohyun pun mengamini dalam hati. Mungkin yang lebih baik dari Sehun? Tapi, yang menjadi poin penting dalam hatinya sekarang adalah bagaimana caranya agar bisa melupakan perasaannya pada Sehun.

“Boleh aku bergabung?” Sebuah suara bass menginterupsi keduanya. Sehun dan Joohyun mendongak bersama, menatap Chanyeol yang kini datang dengan Hanna yang berubah air mukanya. Sehun sangat yakin, ada sesuatu yang diketahui Hanna, tapi sebaliknya, ia tak mengetahuinya.

“Hanya kalau kau mau mengatakan mengenai pembicaraan—aw! Mengapa kau mencubitku, huh?” Sehun memekik tatkala Hanna mencubit pinggangnya. Memangnya apa yang salah dari perkataannya? Pria Oh itu semakin sebal dan yakin ada sesuatu diantara mereka. “Duduklah, Chan. Mau kuambilkan teh?” tawar Hanna.

“Tidak, terima kasih.” Tolaknya halus. Ia menatap sebentar ke arah gadis di sampingnya, mencoba mengais ingatan meskipun tak kunjung mendapatkannya. “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Wajahmu tak asing.” Ucap Chanyeol pada Joohyun, menanyakan secara langsung karena tak kunjung mendapat jawaban dari ingatan terdalam.

Joohyun membulatkan matanya, kemudian melihat ke arah Sehun, seolah bertanya apakah Chanyeol mengajaknya berbicara. Dan Sehun pun hanya menunjuk Chanyeol dengan dagu runcingnya. “Ah, ya, aku pikir juga begitu.” Joohyun menjadi gugup dalam sepersekian detik.

Mengabaikan Chanyeol dan Joohyun yang agaknya sudah mendapatkan ruang untuk membangun konversasi sendiri, Hanna pun menanyakan sesuatu pada Sehun. “Apa yang kau bicarakan tadi dengan Joohyun, hm?”

Sehun melingkarkan tangan Hanna di lengannya. “Itu tergantung dengan apa yang kau bicarakan tadi bersama Chanyeol.” Bisiknya, tak mau mengganggu kedua manusia di hadapan mereka. Sayangnya, meskipun itu terlihat impas, Hanna tak mau mengalah. “Katakan atau aku akan mengabaikanmu selama seminggu.” Ancamnya dengan nada yang sangat serius.

Sehun terkekeh, kelopak matanya membentuk bulan sabit yang terlalu sayang untuk diabaikan irisnya. Ujung hidungnya menggoda pipi kiri Hanna, tangannya kini telah beralih merangkul bahu sang istri. “Kau tak akan bisa,” tantangnya dengan nada seduktif. Tentu saja Hanna marah, bagaimana bisa pria itu melakukan hal semacam ini ketika ada orang lain diantara mereka berdua? Itulah yang membuat Hanna marah.

Oleh karenanya, Hanna menoleh dan menatap Sehun tajam. Sayangnya, bukannya menakuti sang suami, jantungnya malah berdegup kencang lantaran ujung hidungnya menyentuh milik pria itu. Ini seharusnya menjadi hal yang lumrah dalam hubungan suami-istri, seharusnya, bukan? Tapi, Hanna masih saja merasakan raganya hilang disaat tak ada jarak yang tersisa.

“Cari kamar sana!” celetuk Chanyeol yang sudah tak bisa menolerir dengan apa yang dibuat pasangan itu. Sehun yang tak terima pun kemudian menghardik dengan kalimat tak kalah menyakitkan. “Secara teknis, ini adalah rumahku. Jadi, aku bisa melakukan apapun yang aku mau.”

“Sehun!” Hanna mengingatkan, tapi Sehun justru berbalik marah. “Lihat! Kau malah memarahiku. Sebenarnya apa yang dikatakan pria brengsek itu sampai kau membelanya terus, huh?” protesnya panjang lebar sembari menujuk Chanyeol yang tak merasa bersalah. Sungguh, jika saja pria ini bukan prianya, maka mulut itu sudah tersumpal dengan selembar roti.

“Baiklah, aku akan pergi.” Chanyeol mengangkat kedua tangannya, kemudian menarik tangan Joohyun untuk ikut pergi. “Hanna, katakan padaku jika Sehun menyakiti—”

“Aku tak akan melakukan itu!”

“Anjing yang lucu, omong-omong.”

“Chan, jangan menyentuhnya atau alergimu akan kambuh.” Larang Hanna, mengingat bagaimana reaksi kulit pria Park itu jika bersentuhan langsung dengan bulu, terlebih bulu anjing. Hanna juga memiliki alergi yang sama, maka dari itu ia tadi menjauhi Vivi yang hendak mendekatinya.

“Ya-ya, aku tahu.”

.

.

.

.

Pria Byun itu mendekati gadisnya dengan sedikit ragu. Sebenarnya, Baekhyun sangat menunggu mengenai kesiapan Helena terhadap pernikahan mereka. Tapi, mengapa yang ia rasakan justru sebaliknya? Rasanya seperti dirinya-lah yang tidak siap.

“Kau tak menyukainya?”

Sopran Helena menyadarkannya dari alam bawah sadar menuju realita. Pria itu menatap si gadis Park dengan penuh kelembutan, seperti biasa hingga Helena selalu jatuh ke dalam pesona yang sama. “Bukan begitu maksudku,” ujar Baekhyun meluruskan. “Hanya saja aku terlalu terkejut mendengarnya.”

Sesaat setelah mendengarnya, Helena menghembuskan napasnya lega. “Kupikir kau tak mau menikah denganku.” Tuturnya mengutarakan ketakutannya beberapa menit yang lalu. Baekhyun yang tak tahu bagaimana cara merespon kalimat itu hanya tersenyum. Semuanya terlalu semu, ia butuh petunjuk. Hatinya selalu berubah suasana tanpa tahu arah, tak bisa lagi dikendalikan. Ia sendiri tak tahu langkah apa yang akan ia ambil.

“Sayang, aku ada urusan sebentar. Mungkin sekitar dua jam lagi aku akan kembali.” Tak bisa mencegah ataupun melarang, Helena hanya mengangguk. “Tentu.” Satu kata itu menjadi akhir dari percakapan dan ia membawa tubuhnya menuju pintu ganda berkode milik apartemennya.

Sepanjang perjalanan, Baekhyun selalu memikirkan kata-kata Helena yang menginginkannya lebih. Ikatan suci itu tak hanya mengucap janji di depan saksi, lantas hidup dengan saling menyakiti. Tetapi, pernikahan itu adalah hubungan dimana kedua belah pihak saling mencintai tanpa adanya dinding. Keraguaan itulah yang menjadi dinding untuknya.

Sesampainya di depan sebuah café, Baekhyun menghentikan mobilnya. Seorang perempuan menanti di sana dengan menatap ke arah dinding kaca tanpa fokus. Menyesap isi di cangkirnya, namun pikirannya melayang entah kemana.

“Menungguku terlalu lama?”

Si gadis hampir tersedak jika saja ia tak bisa menahannya. Tatapannya beralih menuju Baekhyun yang kini sedang menyunggingkan senyumnya. Lenyap sudah semua umpatan yang tercipta di kepala, tergantikan dengan kalimat sarkatis yang diucap setelahnya. “Tidak selama menunggumu memutuskan hubungan dengannya.”

Terkejut, Baekhyun berdehem guna mengumpulkan sisa-sisa suara yang masih bisa digunakan untuk mengalihkan pembicaraan. “Aku akan memesankan minum lagi untukmu.” Katanya, lantas bangkit dari kursi. Namun tertahan berkat jemari lentik si gadis yang mencengkeram lengannya.

“Aku tak membutuhkan kopi. Yang kubutuhkan hanyalah dirimu, Baek. Tak mengertikah kau mengenai hal itu?” ucapnya. Sekarang, gadis itu sudah berani berkata dengan lancangnya berkaitan dengan perasaan. Ia hanya sudah muak menunggu. Pasalnya, dirinya rela melakukan apapun untuk mendapatkan pria Byun itu, bahkan sampai memutuskan hubungan yang pernah ia jalin sebelumnya.

“Hye, mengertilah. Aku tak bisa melanjutkan hubungan semacam ini. Semua yang kita lakukan salah.” Baekhyun mengingatkan dan larut dalam percakapan pribadi keduanya. Kebodohan yang sudah dibuat dan tak ingin ia lanjutkan, itu keinginannya. Tetapi, si pihak wanita masih saja bersikeras mempertahankan. “Aku sudah punya kekasih dan kau pun juga begitu. Kumohon, berhentilah.”

“Aku sudah mengakhiri hubungan kami karena aku mencintaimu, Baek! Aku akan melakukan apapun untuk bisa bersamamu. Tidak bisakah kau melakukan hal yang sama juga?” pintanya dengan penuh penekanan, tak ada kelonggaran yang diberikan. “Larilah bersamaku dan tinggalkan gadis itu. Aku tahu kita saling mencintai!”

“Aku tidak—”

Plak!

Bariton Baekhyun terhenti tatkala ada pihak lain yang menamparnya secara percuma. Pria Byun itu tak tahu medan, makanya ia hanya terdiam di saat si gadis yang ia kenal melayangkan tatapan marah yang teramat luar biasa.

“Kau brengsek, Baek! Tidakkah kau tahu kalau Helena sudah berusaha membuka hatinya lagi dan itu semua karena dia mencintaimu! Kau menyakitinya, lagi.” Hanna begitu menekankan kata ‘lagi’ dihadapan Baekhyun. Seharusnya, Helena tak mendengar semua ini. Hanna bahkan tak bisa membayangkan jika dirinya yang ada di posisi sahabatnya itu.

Untuk sepersekian detik, Baekhyun bungkam. Otaknya mencerna kalimat Hanna yang mengganggunya. Itu berarti, Helena tadi tahu—tidak! Gadis itu pasti mendengarnya. Oleh karena itu, ia memilih untuk undur diri dan meninggalkan tempat untuk mengerjar sang kekasih tercinta.

Hanna dan gadis tadi masih ada di sana. Kini, giliran Hanna menunpahkan segala kemarahannya. “Mengapa kau lakukan ini, Hyerim-ah? Tak puaskah kau menyakiti Chanyeol disaat dia mencintaimu melebihi siapapun? Tapi, melihat semua ini, aku justru bersyukur kau dan Chanyeol putus. Dengan begitu kau tak akan menyakitinya.”

Hyerim tertegun, namun dirinya tak ingin menjadi pihak yang bersalah. Yang patut di salahkan adalah Baekhyun. Pasalnya dirinya mencintai pria itu melebihi apapun di dunia ini. “Kau tak tahu apapun mengenai hubungan kami! Aku dan Chanyeol putus juga karenamu, pria itu masih mencintaimu,”

Hanna sudah ingin membunuh gadis di hadapannya ini. Bagaimana bisa pria sebaik Chanyeol menyukai wanita jalang egois seperti ini? Batinnya merutuk. “Tidak. kau menggunakan hal itu untuk melepaskannya. Gadis bodoh sepertimu tidak pantas mendapatkan pria seperti Chanyeol! Jika kau tak mau berubah, kau hanya akan terus hidup dalam skenario keegoisanmu dan itu akan menyakiti dirimu sendiri.”

Setelahnya, Hanna memilih pergi tanpa menunggu balasan lagi. Percuma menjelaskan perasaan tulus kepada Hyerim, gadis itu tak akan bisa memahaminya. Orang yang selalu mengikuti kata hatinya dan tak berpikir akan dampak apa yang akan terjadi, mereka semua egois. Hidup bukan hanya tentang hati, tapi juga tentang koordinasi akal yang akan menuntun kemana kita akan pergi.

.

.

.

.

Chanyeol memeriksa ruang kerja Hanna setelah operasi ketiga hari ini selesai. Gadis itu adalah kepala bagian departemen bedah, tapi sedari tadi tak menampakkan barang ujung kukunya. Bukan apa-apa, Chanyeol hanya khawatir jika terjadi sesuatu dengan Hanna. Apalagi mengingat mengenai pembicaraan mereka berdua tadi pagi.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Dikejutkan dengan suara milik pria di belakangnya, ia pun berbalik. Mendapati Kai seorang diri mendatangi ruangan Hanna dengan penuh tanda tanya ketika ia ada di sana. “Aku rasa ini ruangan seorang dokter, bukan bandara.” Ujarnya sarkatis, tak peduli akan reaksi apa yang Kai berikan setelahnya.

Pria tan itu kemudian menjelaskan, meskipun dengan nada yang begitu mengintimidasi. “Aku ingin menemuinya sebelum kembali ke New York.”

Alih-alih kembali melancarkan pertanyaan, Chanyeol hanya mengendikkan bahunya enggan. “Terserah. Tapi, yang pasti dia tidak masuk hari ini.” Tuturnya, lantas mengambil langkah meninggalkan lokasi jika saja tak tertahan oleh pertanyaan yang diajukan Kai selanjutnya. “Apa dia sakit?”

Sembari terkikik sarkatis, Chanyeol menimpali. “Dia punya suami yang kaya dan sangat perhatian dengannya. Dan, itu sudah jadi urusan suaminya, mau Hanna sakit atau tidak.”

Kalah telak dengan kenyataan, Kai bungkam. Tak mau lagi memerdebatkan mengenai perihal pernikahan Hanna dan juga Sehun. Tetapi, jujur saja, jika Hanna benar-benar sakit, ia rela menunda kepulangannya ke New York dan menemani gadis kecilnya itu.

Sayangnya, keinginan itu segera terpatahkan ketika sosok Hanna bersama raut mukanya yang memerah akibat marah datang. Kelopak matanya membulat tatkala melihat Kai dan juga Chanyeol ada di dalam ruangannya. Sontak, seperti sebelumnya, kaki Hanna terhenti tepat tiga meter, tanpa tedeng aling.

Kesialan apa lagi yang menimpaku? Batin Hanna menggeram kesal. Tetapi, jika ia meninggalkan tempatnya berpijak, maka ia tak lebih dari seorang pecundang yang kalah di medan perang. “Hanna—” Kai memanggil, namun terhenti di saat Hanna memberi tanda untuknya berhenti.

“Tetaplah di situ.” suruhnya, kemudian mengalihkan pandangannya pada Chanyeol. “Chan, bisakah kau pergi dan tutup pintunya?” pinta Hanna yang kemudian dituruti oleh Chanyeol meskipun sedikit ragu. Kendati demikian, ia masih menghargai privasi keduanya dan memilih menunggu di luar jika terjadi sesuatu—hanya untuk berjaga-jaga.

Baik Kai maupun Hanna belum membuka suara, meskipun detik sudah mengonversi diri menuju menit tanpa disadari. Kai sendiri lebih memilih untuk menunggu Hanna mengucapkan apa yang ingin diucapkan. Pasalnya, ia tak mau salah mengambil langkah dan dirinya takut jika pilihan yang salah itu malah membuat Hanna menghindari dirinya. Itu adalah mimpi terburuk yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Kai, kumohon berhenti.” Sopran Hanna mengusik ketenangan Kai. Jiwa pria itu runtuh, pertahanannya tak lagi ada yang tersisa. Meskipun ia tak tahu apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Hanna, kalimat itu terucap saja Kai sudah merasa mati.

“Berhenti bersikap seperti itu padaku. Tidak bisakah kau menganggapku seperti Junmyeon Oppa ?” ucapnya, menginginkan semua perasaan bersitegang ini terus ada. Hanna hanya tidak mau hika harus menghindari dari Kai, mengingat ia begitu nyaman berada di sekitarnya. Merasa aman, meskipun tak merasa lebih dari seorang adik kepada kakaknya. Apa yang Kai rasakan padanya itu semua salah dan Hanna tak mau merusak hubungannya dengan Kai.

Mengetahui kemana arah pembicaraan yang sebenarnya, Kai mengalah. “Aku tahu bahwa ini semua salah. Tetapi, bukankah kau tahu sendiri bahwa cinta tak bisa disalahkan? Aku bahkan menyukaimu terlebih dahulu dari Sehun. Sapu tangan itu, aku masih menyimpan ceritanya baik-baik.”

“Kai!” Hanna memekik guna memeringatkan dan itu tak akan berhasil. Jika sudah seperti ini, maka Kai akan memilih untuk melakukan apa yang ia inginkan dan tak menggubris Hanna sekalipun. “Mengapa harus Sehun yang menang, Han?!” teriaknya pada Hanna, membuat gadis itu ketakutan setelahnya. Tak perlu bertanya bagaimana Kai tahu di saat Hanna terlihat tenang. Karena, apapun mengenai Hanna, hanya ialah yang paling mengerti.

“Meskipun bukan Sehun, kau akan tetap seperti ini.” Gumamnya berani mengungkapkan argumen. Sejurus kemudian, Kai ikut membenarkan. “Benar, kau bahkan mengetahui itu dengan baik. Lantas, mengapa kau malah memilih orang lain dibandingkan diriku? Sedangkan aku selalu menjagamu, Han.”

“Karena kau egois, Kai. Jika saja kau tak punya perasaan itu, kau tak akan menyakitiku maupun menyakiti Sehun. Meskipun itu hanya sebuah perasaan, kau sudah menyakiti banyak orang.” Hanna mencoba untuk meluruskan pemikiran pria Kim itu, namun tak tahu apakah ini akan berhasil. Yang pasti, ia harus mencoba agar tak terjadi kesalahpahaman.

“Perasaan suka dan perhatianmu itu malah membuatku takut. Selama kau masih menyimpan perasaan itu, selama itu juga aku akan membencimu.”

.

.

.

.

“Helena, kumohon buka pintunya!”

Baekhyun menatap cemas pintu kayu dihadapannya. Gadis itu memilih kembali ke rumahnya sendiri dan mengurung diri di dalam kamar. “Dengarkan penjelasanku dulu, Len. Aku tidak bermaksud menyakitimu—”

“Kau sudah menyakitiku, Baek! Pergi!” balas Helena dari dalam kamarnya. Hatinya sungguh hancur. Kecurigaannya selama ini sudah terbukti benar adanya. Pantas saja Baekhyun sering terlambat pulang. Dan yang lebih parahnya, Baekhyun tak lagi menjadikan pernikahan sebagai sapaan paginya, sama seperti dahulu. Kedekatan mereka pun juga berkurang, malah hampir bisa dihitung dengan jari berapa kali keduanya melakukan konversasi.

Jika saja Hanna tak mau membantunya, mungkin ia akan menjadi gadis bodoh seumur hidup tanpa tahu yang sebenarnya. “Aku berpisah dengannya sudah lama sekali, Len. Aku bahkan meninggalkannya hanya untuk bersamamu, menikah denganmu. Kumohon keluar dan mari kita bicarakan ini baik-baik.”

Setidaknya, aku tidak melihatmu menangisi diriku yang brengsek, Len. Ujar Baekhyun dalam hati, merasa dirinya tak pantas untuk disayangi dan dicintai. Dirinya memang berharap Helena mau berbicara dengannya, meskipun kemungkinannya sangar kecil. Tetapi, berharap dan berjuang bukan lagi hal yang asing baginya.

“Aahh!”

Ketika Baekhyun akhirnya mengalah dan hendak pergi, Helena memekik dari dalam sana. Tak pelak membuat Baekhyun khawatir setengah mati dan berlari menuju depan pintu Helena. “Helena, buka atau kudobrak pintunya!”

Tak ada jawaban.

Menepati kata-katanya, pintu terbuka setelah usaha Baekhyun mendorong pintu dengan tubuhnya empat kali. Menampakkan si gadis Park yang terduduk di lantai sembari terisak. Tak menunggu lama, Baekhyun menghampiri gadis itu dan merengkuhnya dalam-dalam. Yang dipeluk pun tak mengelak, malah menenggelamkan diri dalam pelukan hangat itu. Isak tangisnya semakin menjadi, tak peduli akan ego dan amarah dalam diri.

“Kau baik-baik saja?” tanya Baekhyun. Helena hanya menggeleng sebagai jawaban, padahal Baekhyun tahu persis dimana luka itu tercipta, hatinya. “Kau brengsek, Baek. Aku membencimu!” ucapnya sembari memukul tubuh pria itu tanpa kuasa penuh. Berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Helena, Baekhyun justru semakin mempererat pelukannya.

“Aku memang brengsek, Len. Pukul aku, karena itu pantas kudapatkan.”

Helena merajut jarak diantara keduanya. Tangannya kini sudah diangkat dengan cepat, tapi tak ada pergerakan selanjutnya. Helena menatap Baekhyun nanar, namun tak kuasa melayangkan pukulan. Hati dan pikirannya tak menyatu, saling berargumen satu sama lain tanpa adanya keputusan akhir untuk diambilnya sebagai pilihan.

Sayangnya, tak ada yang bisa mematahkan perasaan melebihi akal sekalipun. Helena yang diperkirakan akan memukul pria itu untuk dijadikan sebagai pelampiasan amarah, malah merangkum ketampanan sang kekasih dan mendaratkan bibirnya pada peraduan manis Baekhyun. Tak ada pergerakan, karena itu bukan ciuman nafsu semata. Benci, cinta, rindu, amarah semua menyatu di sana.

“Apakah dia lebih baik dariku, Baek? Sampai-sampai kau meninggalkanku,”

“Tidak, kau bahkan lebih berharga dari dunia sekalipun.”

.

.

.

.

Ia memijat pelipis lantaran banyak sekali kejadian yang memicu amarahnya hari ini. Ketika suaminya datang sekalipun, gadis itu malah memejamkan matanya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Masalah tak kunjung selesai, ia merasakannya. Belum tentang Nara, Sehun, dan juga Kai.

Disela-sela memikirkan semuanya dalam diam, satu kecupan manis ia dapatkan di bibir yang diberikan oleh Sehun. Tentu setelahnya Hanna mendudukkan dirinya dan menatap kesal Sehun yang kini sibuk membuka kemejanya. Merasa mendapatkan perhatian, Sehun pun mengalihkan pandangannya pada Hanna. “Apa?”

Melihat bagaimana respon Sehun yang tak berdosa, hancur sudah amarahnya tergantikan oleh perasaan bersalah. Ia menggelengkan kepalanya, mengindari pemikirannya mengenai berbicara terlebih dahulu dengan Sehun. Tapi, ia tak bisa menyembunyikan ini. Ia dan Sehun sudah berjanji tak akan mempunyai rahasia sekecil apapun itu.

“Aku mau bicara denganmu.”

Mendapati raut muka Hanna yang serius, Sehun pun menempatkan diri duduk di tepi ranjang. Menempatkan fokusnya penuh pada pembicara pertama yang kini hendak membuka konversasi. “Tentang apa?”

Tak lantas menjawab, Hanna malah menyelami iris coklat pekat pria itu. “Ini tentang Nara.”

Nampak sekali Sehun membulatkan matanya samar. Jika menyangkut Nara, maka itu akan menjadi topik penting yang akan Sehun utamakan, karena Nara adalah anaknya. “Katakan, Hanna.”

“Ini juga mengenai pembicaraanku dengan Chanyeol. Dia menemukan dokumen Nara ketika dirawat saat kecelakaan dulu. Ada kejanggalan mengenai catatan kesehatannya.” Hanna memulainya, walaupun dirinya tak yakin akan terhadap respon Sehun setelahnya.

Masih menetapkan atensi yang Sehun berikan padanya, Hanna kembali menambahkan. “Kita tahu juga bahwa Nara mendapat luka di kepalanya akibat benturan. Singkatnya, karena seat bell yang dipakai, tak ada luka di dalam otak kecilnya.”

Ya, Sehun tahu maksudnya, tapi tak tahu apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Hanna. “Jadi?”

Hanna mendahuluinya dengan hembusan napas pasrahnya. “Seharusnya, Nara tidak lupa ingatan.”

.

.

To be continue…

.

.

Apa ini? 4.228 dalam dua hari lebih tiga puluh menit aku menghabiskan waktu duduk berdiam diri di depan laptop dan juga di sela-sela kesibukan, akhirnya aku menyelesaikan chapter ini. Gimana pendapat kalian mengenai cerita kalian kali ini, kaget luar biasa bukan? Apalagi yang terakhir, mulutnya jangan buka lebar-lebar loh, entar ada lalat masuk/? 😀

Trus yang minta fanfict ini panjang, angkat tangan… ini udah panjang loh, ya? Tapi, makasih karena permintaan itulah ide mengalir di otakku :”) Aku gak tahu mau ngomong apa lagi, yang pasti thanks buat readers yang sudah vote di post-an ku sebelumnya (re: Sehun Birthday ver. —Fine). Buat yang belum, cus cari postnya dan lihat di bawah author note. Suara kalian memberikanku pencerahan 😀

Thanks sudah membaca, jangan lupa feedbacknya. Ingat, memberi-menerima, ya? :*

Advertisements

17 thoughts on “1435 #12—PutrisafirA255”

  1. Eii akhirnya update lagi 😙 itu yg trkhirnya bikin shock 😱 wkwk nara ga lupa ingatan? Trus selama ini dia boong dong? Ko bisaan sih, masih kecil juga wkwkw sehun hanna unchh 😙😙 makin nempel wkwkw itu kai moga aja brenti ngejar si hanna. Next yaaa, ditunggu 😉

    Like

  2. AKHIRNYAAAA UPDATEEEE😭😭😭
    Eh tunggu jangan jangan ada yang sengaja bikin Nara lupa ingatan?!😱
    Wah siapa tuh jan jangan kai? Atau helena? Ah gamungkin helena. ATAU BAEK?! Eh gaboleh suujon.
    Oke oke teori aku ngawur semua.
    UHUUU LONG CHAPTER SEKALIIII💓
    Fighting eonni💋
    Dapet kiss kiss dari istri jjk dan pacar osh❤

    Liked by 1 person

  3. Akhirnya update juga … 😆😆😆😆👏👏👏 udah lama nunggu ini ff update penasaran ama cerita selanjutnya, wah vivi jadi cameo nih lucu pas tahu hanna takut ama anjing wkwkkwk kasian vivi diabaikan … tanpa sadar di endingnya melongo otomatis , jadi nara gk lupa ingatan ???? Daebak… 😱😱😱trus hyerim putus ma chanyeol karna selingkuh ama baekhyun ??? 😱😱😱
    Chapter ini penuh dgn kejutan keren author… keren …. 👏👏👏👏👍👍👍👍
    Ditunggu next nya 🙋🙋🙋🙋

    Liked by 1 person

  4. Ohh tidakk kakak ini bener” keren banget😘, chap ini penuh dengan kejutan😉😄😃😀😊☺😍 tau next ya kak ditunggu banget tau jgn lama” udah kangen banget 😘
    Fighting kak!

    Liked by 1 person

  5. Ya ampun udah lama banget kayaknya nunggu kisah mereka, baru sempet baca chap ini.
    tadi maksudnya hanna si nara bohong dan pura2 amnesia gitu? Tujuannya nara apa coba bohong gitu

    Like

  6. HALOHAAAAAA!!!! MAAPKEUN BARU BUKA NIH WP DAN UDAH NEMUIN NIH FF UPDATE YUHUUU… (capslock jebol). Alhamdulillah vivi anakqueeee akhirnya jadi cameo di ff ini (gk y), setelah sekian lama aku menunggu (jeh jadi nyanyi) belum selesai UN tapi cek wp ini dulu, kangen sama abang cakwe (sehun). Di tunggu ya kak kelanjutannya!!

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s