[Chapter #8]Everything has Changed: LOST?

Title |Everything has Changed

Author|RHYK

Cast|               Oh Sehun

Xi Luhan

Kim Jisoo ‘BlackPink’ as Arial Ahn

 

Additional Cast| Hye Ri ‘Girls Day’

DK ‘SVT’

Yuju ‘G-Friend’

June ‘Ikon’

Jun ‘SVT’

Length|Chapter

Genre|AU – Friendship –Romance – School life- Family -Sad

Disclaimer| Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Poster by Arin Yessy at IFA

Autor Note’s| Maaf untuk update yang terlalu lama. RCL DIWAJIBKAN

Summary this Chapter|”Apa kau kira kalung ini hilang?”

 

Previous Chapter|

1 Unique girl || 2 Suck Feeling ||3456 Do Not Wanna Hear You7 The End of Us-8 Lost [NOW]

 

==8==

Summer, a few years a go

Musim panas. Gadis yang kini jauh berada didepannya, dengan netra hazel yang tak bisa diam merefleksikan pandangannya pada hal yang sudah setiap kali dilihat pada saat musim panas datang, sampai seorang Oh Sehun bosan, tapi tidak dengannya. Ah, kalo diingatpun musim panas memang cocok dengan kepribadian gadis yang satu-satunya tidak malu untuk melakukan apapun asal nilai akademisnya naik. Bodoh dan ceria.

Tapi, dalam diri Oh Sehun diam-diam ia mensyukuri itu.Karena, jika mereka berdua sama-sama pintar yang ada bukan persahabatan tapi permusuhan bahkan buruknya pembunuhan.Mengingat ambisi Arial lebih besar dari dirinya.Dan, ambisi itu bukan dalam pelajaran tentu saja, melainkan ambisi untuk mendapatkan pria hangat yang jenius dan juga menyukai musim panas sama seperti dirinya.

Intinya, gadis itu sangat yakin dengan ekspektasi yang akan berubah jadi nyata.

 

Pengharapannya begitu besar, pikir Sehun.

 

Laju mobil berhenti, dan gadis itu langsung turun dan berlari dengan Luhan yang berjalan dibelakangnya.

Sementara Sehun lebih memilih untuk berdiam dimobil dan mendengarkan teriakkan Arial yang memekakan telinga.

“WOO!! kami tiba di Jeju!!”

mendengar itu Luhan tertawa dan mengacak rambut gadis itu pelan, sementara ayah dan ibu hanya tertawa seraya menggelengkan kepala.

Sehun hanya terdiam sejenak, tujuan keluarga Oh bertamasya saat musim panas memang sudah menjadi agenda besar di keluarga Oh, karena pada awal musim panas, sekitar April kedua anaknya berulang tahun jadi mereka bertamasya sebagai perayaan ulang tahun kedua putra keluarga Oh.

 

Tapi, selalu yang terlihat gembira hanya Luhan dan Arial sementara Sehun tak pernah memikirkan tentang kesenangan ini. Sehun hanya merasa semakin ia dewasa dan bertambah satu angka baik depan atau belakang, Sehun semakin tidak bebas bahkan untuk dirinya sendiri. Untuk itu, acara liburan ini membosankan untuknya.

 

||Everything has Changed||

 

Sehun usai mandi, ia sendirian dikamar sementara Luhan pergi ke kolam renang lalu Ayah dan Nona Shen pergi jalan -jalan ke pelabuhan terdekat untuk bertemu teman tuan Oh.

Tiba-tiba saja, Arial mengetuk pintu kamar Sehun tanpa bersuara.Yah, sedikit aneh buat Sehun jika tanpa sebab gadis itu membisu seribu kata.

“Arial?” tanya Sehun dibalik pintu. “Tentu saja bodoh!siapa lagi yang masuk jika bukan aku?” Arial memelankan suaranya setelah meninggi satu tingkat, Sehun membuka pintu dengan tangan lain yang masih mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil, tentu saja ia sudah memakai kaos oblong berwarna putih, senada dengan handuk yang ia gunakan.

“Ada apa?Bukankah kau berenang dengan Luhan -hyung tadi?” tanya Sehun membuat Arial mematung sejenak sebelum akhirnya ia menggigit bibirnya dan memutuskan untuk bicara pada Sehun. Karena,yah hanya Sehun seorang yang tak punya kesibukkan.

“Umm,aku butuh bantuanmu.. ng,jadi aku pulang karena perutku sakit.”

 

“Hyung sepertinya bawa beragam jenis obat, mau kuambilkan?”

 

Arial menahan Sehun dan menggeleng. “Bukan sakit perut itu.. kau tau, periode menstruasiku lebih cepat dari perkiraan..”

 

“Jadi..hei!kau gila menyuruhku untuk membeli itu?”

 

“Sehun, aku mohon.. ng.. tokonya tak jauh dari sini..ini diluar dugaanku juga, dan perutku sangat sakit sekarang..’

 

“..Sehun, temanku Oh Sehun??”

 

Sehun hanya menghela nafas dan memutar matanya malas.

 

“Ganti pakaianmu itu terlalu menampakkan semuanya!bahkan celanamu sudah merah..ck ck..” gerutu Sehun lalu melilitkan handuk kecil dipinggang Arial.

 

||Everything has Changed||

Sehun masuk kedalam kamar dan melemparkan kantong yang ia bawa. Arial meraih kantongnya, lantas ia mengacak pelan rambut Sehun dan berjalan melewatinya lalu segera masuk ke toilet. “Terimakasih, Sehun -ah!” katanya begitu ia masuk toilet, Sehun tak menjawab ia hanya memerhatikan bagaimana rupa gadis itu ketika periodenya datang, wajahnya selalu dua kali lebih pucat dan juga berkeringat namun masih bisa-bisanya ia tertawa.

 

Terkadang gadis seperti Arial susah ditebak.

 

Sehun memegang sesuatu dibalik telapaknya, ia segera berbalik begitu derit pintu terdengar. Gadis itu masih pucat namun ia sudah kembali bersih dengan celana selututnya bermotif mickey mouse.

 

“HHH, aku lega..’ ujar Arial seraya melirik Sehun. “Apa yang kau sembunyikan dibalik tanganmu itu?” tanya gadis itu dengan raut wajah ingin tahu.

“Apa kau baik -baik saja?”

“Iya, hei Sehun!apa empat kata itu kau merasakan itu adalah hal hangat yang pernah kau katakan padaku?Benar begitu bukan?”

“Terserah.” tukasnya lalu mengangkat tangan kanan gadis itu, lantas ia mengeluarkan benda yang sejak tadi ia pegang, sebuah kalung berantai warna perak, terlihat tak mahal memang tapi entah mengapa Sehun rasa sangat cocok jika Arial yang memakainya. Bagi Sehun, membuat Arial menjadi cantik dan sederhana.

“Hei, Oh Sehun ini kalung..”

“Karena kau alergi jika memakai kalung,untuk itu ku jadikan gelang. Nanti akan kubelikan yang lebih bagus lagi jika kita kembali ke Seoul..” ucapan Sehun berhenti tepat saat ia usai melilitkan rantai kalung ditangan kanan Arial. Arial tersenyum sendiri seraya mengamati tangannya yang kini tak kosong lagi.

 

“Um,jadi apa kau ingin menikmati angin laut dan pasirnya?’

Arial melihat kearah langit lalu diikuti Sehun “Langit cukup temaram malam ini bukan?” ujar gadis itu seraya menyengir pada Sehun yang membuat lelaki itu spontan saja segera merangkulnya.

 

Yang dipikir Arial, bahwa lelaki itu cukup hangat dan memang hangat untuk hari ini, lebih tepatnya malam ini.

 

||Everything has Changed||

Sehun hanya mendesah pelan begitu ia usai menunjukkan rasi bintang yang terlihat pada malam itu. Angin menderu berbisik ke telinga Sehun ketika ia mencoba memejamkan mata.

Sama seperti yang gadis itu lakukan, hanya saja Arial sepertinya memang benar -benar jatuh ke alam bawah sadarnya sejak beberapa menit lalu, dimana Sehun seperti sedang melakukan kuliah tentang Rasi Bintang.

Terdengar membosankan dan kantuk Arial datang. Arial hanya menyukai kerlap-kerlip bintang yang berkilauan.

 

Sesaat, Sehun ingin waktu berhenti. Biarkan semua seperti ini, dimana gadis itu larut dalam bunga tidurnya dan Sehun sebagai penikmat yang sedang mengangumi karya tuhan yang membuatnya terkagum kadang dan juga menyebalkan saat dilihat.

 

Netra lelaki itu beralih pada suatu yang berkilauan dibawah cahaya bulan yang temaram. Tangan Sehun merogoh ponsel miliknya dan ia berhenti sejenak pada kamera, fokus lensa membuat ia terdiam sejenak. Lantas, ia memotret tangan yang dibalut dengan rantaian kalung itu diam -diam.

 

Setidaknya, ketika waktu berlalu dan gadis itu sudah tak sama lagi kelak lelaki itu masih memiliki sebuah kenangan yang akan terus membuatnya pada momen ini.Baginya, saat ini bukan sekedar momen biasa, melainkan momen berharga.

 

||Everything has Changed||

Sehun berjalan disebuah lorong, ia berhenti melangkah begitu sebuah pintu geser masuk kedalam pandangannya. Ia terdiam sejenak, lalu menggeser pintu itu.

 

Sehun mengedarkan pandangnya pada ruangan dengan hanya beberapa siswa yang sedang sibuk belajar,jadi kehadiran Sehun pun pastinya tak terlalu diperdulikan oleh mereka.

 

Ia berhenti pada salah satu baris meja,dimana yang dicari bukannya belajar tetapi sibuk tertidur diatas buku-buku yang masih terbuka lebar,mungkin saja pekerjaannya belum usai.

 

Sehun melangkah pelan,dengkuran halus terdengar begitu langkah Sehun mendekat.Ia hanya mendecak pelan, lantas ia mengambil post-it disalah satu meja dan menuliskan sesuatu dan menaruh susu kotak rasa pisang cokelat yang sudah menjadi favorit Arial sejak mereka duduk di Taman kanak-kanak.Sehun terdiam beberapa saat, tanpa sadar sebuah senyum merekah dipipi lelaki itu.

 

||Everything has Changed||

 

Arial masih tak bisa mencerna darimana susu kotak itu datang, pasalnya jika orangnya adalah Sehun ia tak akan repot-repot menuliskan sebuah pesan singkat dipost-it, ia tak pernah menjadi orang yang memerhatikan bagaimana kesehatan orang lain, bahkan bertegur sapa dengan orang lain atau apa. Ia jarang bahkan terhitung tak pernah dilakukannya.

 

“Jangan sakit, semangat!”

 

“Tidak mungkin Sehun ‘kan?..’ gumam gadis itu, lantas ia menempelkan post-it itu dibuku miliknya.

“..pasti Oppa.. benar, Sehun bukan orangnya.”

Gadis itu hanya menepis pemikirannya jauh-jauh tentang Sehun.

 

||Everything has Changed||

 

Sabtu datang, bagi Sehun akhir pekan bukanlah hal spesial seperti anggapan orang kebanyakan. Akhir pekan, ia harus kembali kerumahnya bukan kondominium. Ia harus melihat Arial dan juga Luhan yang selalu pulang jogging bersama ketika ia bangun, semuanya terasa drama untuk Sehun.

 

Karena, seramai apapun rumah itu diri Sehun merasakan bahwa lelaki itu selalu sendiri. Apalagi, sejak Arial mengaku bahwa dirinya sudah menjadi kekasih Luhan membuat Sehun merasa bahwa ia harus mengambil sebuah jarak. Jarak agar tidak ada hal -hal yang tak diinginkan terjadi.

 

Sehun mengecek ponselnya berulang kali,tak ada notif apapun dari Arial dan juga Luhan. Lantas, jemarinya menyentuh widget galeri foto miliknya,ia melihat berbagai macam foto dirinya bersama Arial yang entah kapan Arial memasukkan foto itu keponselnya.

 

Arial memang hacker yang handal.

 

Namun, ia berhenti begitu melihat sebuah foto tangan dengan gelang rantai. Ia berjalan menuju nakas lantas ia membuka laci kecil dan mengambil benda yang sama seperti yang ada dalam foto.

 

“Apa kau kira kalung ini hilang?”

 

||Everything has Changed||

Hui Jin mengendap dan berdiri dibelakang Luhan, ia tersenyum jahil dan berniat untuk mengejutkan Luhan,namun begitu tiba-tiba Luhan yang membalikkan badan gadis itu yang histeris,sehingga beberapa orang di minimarket menujukan pandangannya pada mereka. Luhan menatap Hui Jin jenaka, ia lalu mengulurkan tangannya dan membantu anak dari pembantu rumah besar keluarga Oh berdiri. Selanjutnya, lelaki itu menginterogasi Hui Jin dengan nada bercanda. “Sedang apa kau disini sore begini? –memang kau tidak ada les?” pertanyaan Luhan membuat gadis itu hanya menyengir kecil lalu mengusap tengkuknya “Sekolah memulangkan cepat murid-murid karena sedang ada renovasi dan kelas 3 memakai kelas kami –‘ Hui Jin menatap sekilas Luhan yang tampak tak percaya dengan apa yang Huijin akui. “-aku serius,Oppa.” Lanjut gadis itu membentuk jarinya menjadi huruf  V sebagai tanda sumpah bahwa pengakuannya itu adalah fakta, melihat tingkah Huijin membuat Luhan tertawa renyah lalu mengantongi kedua tangannya dicoat yang ia kenakan. “Memangnya aku memintamu untuk sejujur –jujurnya?” tanya Luhan seraya mengambil beberapa makanan ringan di rak –rak  seller. Huijin hanya mengekorinya dari belakang “Aku akan segera kembali ke sekolah, dengan satu syarat.” Ujar Huijin menawari kesepakatan membuat Luhan membalikkan badannya dan menaikkan salah satu alisnya, menunggu syarat jenaka apa lagi yang akan gadis belia itu berikan padanya sebagai kesepakatan. “Belikan aku cokelat ya,Luhan Oppa?” kata Huijin antusias. Luhan menggeleng dan kembali berjalan kearah kasir, sementara itu Huijin sudah kecewa sekali karena akan tamat riwayatnya kali ini jika orang tuanya tau kalau ia membolos. Melihat air muka Huijin yang tak lagi antusias, Luhan mendekat lagi kearah Hui Jin “Kau bisa ambil cokelat sebanyak yang kau mau, Hui Jin –ssi!” ujar Luhan lalu tersenyum, gadis itu pun kembali tersenyum lebar dan meninju udara saking gembiranya.

**

“Oppa, bus ini searah ke rumah juga, kau tidak ikut?” tanya Hui Jin sementara bus sudah datang dan berhenti tepat di sisi gadis itu berdiri. “Kembalilah ke sekolah, aku akan pulang nanti, aku masih ingin jalan-jalan.”jelas Luhan membuat Hui Jin mengerti dan segera masuk kedalam bus. Ia duduk disalah satu bangku dan melambai pada Luhan, dan lelaki itu membalas dengan hal yang sama.

Sepeninggal Hui Jin, Luhan menyusuri jalan-jalan sekitar Seoul yang lama ia tak bisa nikmati selama ia tinggal beberapa bulan di Korea tiap tahunnya. Selain karena mengurusi Ohesang Company, Luhan juga tak punya waktu lantaran Sehun juga tak memiliki waktu senggang untuk sekedar bercengkrama dengannya, dan Arial yang selalu ingin pergi, namun timingnya tak pernah tepat dengan timing Luhan. Langkahnya terhenti begitu matanya menangkap sebuah objek yang terpajang disebuah toko gaun pengantin. Dan, tiba-tiba saja orang yang terakhir ia pikirkan menjadi pusat perhatiannya atas gaun itu.

**

Beberapa orang yang berpapasannya dijalan membungkukkan badannya sebagai tanda hormat, yang segera dibalas ramah oleh lelaki muda itu. “Pagi Luhan-ssi..” sapa seorang karyawan yang duduk dibalik meja bertag keramik ‘Sekretaris’ lalu dengan nama lengkapnya diatas jabatannya.  “Oh, selamat pagi juga untukmu, Mina –ssi. Apa presdir ada didalam?”

Setelah dipersilahkan masuk, Luhan pun memasuki ruangan dengan pintu bertuliskan ‘President Room’ disana sudah ada si empu ruangan yang tidak lain adalah pemilik Ohesang Company atau ayah dari dirinya dan Sehun. Lelaki itu tak menghiraukan kehadiran Luhan dan tetap melanjutkan kegiatannya sebelum Luhan masuk kedalam ruangannya yaitu membaca koran, meski beliau tahu Luhan sudah duduk disofanya, tentu dihadapannya. “Ini bukan hari dimana kau bisa masuk dengan seenaknya ke ruanganku, dan bukan juga saat yang tepat untuk mempertanyakan tempatmu di Ohesang, mengerti?” lelaki paruh baya itu tiba-tiba saja memulai perbincangan dengan sinis. Namun, dengan tenang Luhan menanggapi “Aku tidak perduli dengan semua itu, presdir. Dan, aku tak akan meminta apapun darimu apalagi Ohesang Company. Tapi, dengan satu syarat –‘ lelaki itu menggantung kalimatnya, mengundang penasaran pendiri Ohesang itu, lelaki tua itu tersenyum miring memandang Luhan sakartis dan untuk kali ini Luhan tak lagi memandang  Tuan Oh  secara sopan namun memandang dengan jenis pandangan yang sama bahkan lebih picik dan juga menyedihkan “Biarkan aku menikahi Arial dan berikan sahamku di Ohesang untuknya.” Ujar Luhan yakin membuat Tuan Oh hanya mengelus dagunya dan membisu.

 

||Everything has Changed||

Sehun mengedarkan pandangnya begitu ia tiba di rumah besar, Hui Jin yang menyapanya tak juga membuyarkan satu hal yang ia cari setelah lelaki itu tak pulang ke rumahnya sendiri. Dan, matanya berhenti pada satu ruang berpintu kaca bening dengan gordyn yang dibuka lebar. Ada dua orang yang sedang asik bercengkrama menikmati waktu santai bersama, dan salah satunya adalah hal yang Sehun cari sebagai alasan agar lelaki itu pulang ke rumahnya. Yap, satu hal itu adalah tentang hadir seseorang. Seseorang yang menyebalkan jika dilihat dari dekat, menggemaskan dalam beberapa momen, dan membuat Sehun merasa hampa jika gadis itu tak disekitarnya.

 

Sehun melangkah malas-malasan untuk mendekat dan membuka pintu itu. Tapi, dua dari mereka bahkan tak ada yang menyambut kedatangannya sama sekali. Sehun mendehem keras-keras dengan sengaja. “Ekhm!” membuat dua dari mereka sama-sama menoleh dengan air muka yang berbeda, yang satu menyambut hangat, dan yang satu tampak tak senang karena terganggu dengan kehadiran Sehun.

 

“Oh –kau pulang?” sapa Luhan tersenyum, sementara Sehun hanya mengiyakan datar saja seperti biasa. “Hei –bedebah!kau tidak menyapaku sama sekali?” kata Sehun seraya melihat Arial yang tampak memanyunkan bibirnya bete. “Kau itu memang arogan sekali ya!Aku melihatmu –dan tak ada yang berubah jadi pasti kau baik –baik saja.” Arial menanggapi malas pertanyaan Sehun, membuat Luhan segera mengusap rambut gadis itu lembut sementara Sehun merasa ingin muntah saja melihat ekspreksi Arial yang berlebihan. Sehun merasa diabaikan disana, ia merasa jadi orang ketiga saja sekarang, jadi, ia lebih memilih keluar dan ke kamarnya yang ada di seberang kamar Arial. Lelaki itu kira dengan kehadirannya yang tiba-tiba Arial akan mengajaknya menikmati perayaan kembang api karena malam ini pergantian tahun baru, namun tampaknya itu cuman sebatas imaji Sehun. Dan, tanpa sadar lelaki itu berkata “Apa kau ingin melihat kembang api untuk pergantian tahun bersama?”

“Kau bertanya ke siapa –tembok –udara –pintu –atau aku dan Luhan?” sahut Arial menyedekapkan tangannya. Membuat Sehun menghentakkan kakinya malas dan segera masuk ke kamarnya “Siapapun yang dengar!” teriak lelaki itu dengan nada kesal.

**

Mereka bertiga menikmati pemandangan kembang api dari sungai Han, Sehun baru saja kembali membeli cokelat panas di food –truck yang memang tersedia disekitaran sungai Han. Meski malam semakin dingin antusias orang-orang juga tak padam dan semakin semangat setelah jam menunjukkan pukul 23.45 KST yang artinya sekitar 15 menit lagi pergantian tahun baru dimulai. Luhan mengenggam tangan Arial dan memasukkan tangan gadis itu ke mantelnya, Sehun yang melihat itu hanya membisu dan menikmati riuh orang-orang disekitar mereka. “Arial –aku akan mengatakan sesuatu padamu sebagai kejutan dan hadiah Tahun Baru untukmu.”

Arial menggigil dan menyeruput cokelat panasnya, masa bodoh dengan Sehun yang ada disampingnya ia memandang kaka tiri Sehun itu lekat –lekat. “Benarkah –apa itu?apa jika kau bilang padaku itu akan membuatku sangat gembira bahkan sampai melompat, Oppa?” tanya gadis itu dengan nafas yang berasap, antusiasme yang tinggi membuat Sehun hanya menundukkan kepalanya, karena tingkah Arial bikin malu saja jika penyebab gadis itu gembira adalah karena kata-kata Luhan. “Eo! Tentu saja!” jawab Luhan ikut antusias.

“Sehun –ah!” panggilan Arial membuat Sehun menoleh dengan wajah mengernyit. “Menurutmu, bagaimana hal yang dikatakan Luhan Oppa adalah tentang pernikahan kami berdua?”tanya Arial pada Sehun membuat lelaki itu hanya memutar matanya malas lalu menoyor kepala gadis itu kelewat pelan. Sehun menjawab sambil menyeringai  “Kau masih dibawah kualitas, selesaikan pendidikanmu dulu..bodoh!”

Luhan tertawa melihat tingkah kedua orang yang ia sayang seperti adik sendiri. “Ish! Kau –‘rutuk Arial ingin memukul Sehun namun segera ditahan oleh tangan besar lelaki itu yang mulai membeku namun masih ada hangat yang gadis itu rasa. “Ssst! Nikmati kembang apinya.” Ujar Sehun berbisik, membuat Arial ingin meneriaki lelaki itu kalau saja itu bukan adik dari kekasihnya sekarang. Melihat situasi yang tak akan usai-usai Luhan menengahi tanpa ragu lelaki itu mengeluarkan tangan gadis itu dari mantelnya dan merangkul gadis itu. “Arial –ayo kita coundown sama-sama!” ajak Luhan membuat mereka asik berduaan sementara Sehun jadi penonton. “10,9,8,7,-‘

“6,5,4,3,2,1!!”lanjut Luhan.

Langit Seoul khususnya sungai Han menjadi hiasan pelangi warna-warni malam ini.Orang –orang berteriak riuh begitu jam menunjukkan pukul 00.00 dan tahun masehi telah berganti, terdengar lonceng dua belas kali yang dipukul dari pusat Namsan Seoul. Tak terkecuali Luhan dan Arial yang saling berpelukan dan begitu mereka usai berpelukan tiba-tiba saja Luhan mencium kening Arial singkat. Sehun hanya termangu melihat pemandangan mengejutkan itu, tak disangka Luhan akan berani melakukan hal yang seperti itu ketika orang-orang lain di sekitar mereka melakukan ciuman yang lebih lama dari Luhan. Arial melihat orang-orang disekitarnya ia lalu tersipu malu “Luhan Oppa –apa kita tak bisa melakukan hal yang sama seperti mereka?” pertanyaan Arial membuat Luhan tertawa lalu mengecup dahinya sekali lagi. “Bagiku,hal seperti itu tidak untuk dikonsumsi publik –Arial.. kita bisa melakukan lebih banyak lagi setelah menikah nanti.”

Mendengar jawaban Luhan membuat wajah Sehun dan Arial sama-sama berubah. Arial terlihat kaget namun senang dan Sehun –ekspresinya muram seperti memikirkan dan ingin mengatakannya namun ia tak bisa menyampaikannya. “Apa yang ingin kau katakan pada Arial, Hyung?” sela Sehun, dengan nada bicara naik setingkat ditengah-tengah Luhan dan Arial yang sedang asik didunia mereka. “Sebelum menjawab, aku akan bertanya pada kalian tentang apa yang kalian harapkan di tahun ini kedepannya?” sahut Luhan santai. “Aku hanya berharap bahwa kami berdua lulus dengan hasil yang baik, dan juga kami dapat universitas pilihan kami sesuai minat aku dan Ahn. –‘ ujar Sehun lalu melirik Arial yang termangu melihat kearah Sehun, namun gadis itu memandangnya dengan jenis tatapan yang kosong. “..bagaimana denganmu, Rial –ah? Apa harapanmu?” lanjut Sehun, nada bicaranya merendah entah mengapa ketika mendapatkan Arial kembali memandangnya dengan jenis tatapan yang sulit Sehun mengerti, seperti antara perasaan senang, sedih tiba-tiba dan juga bingung jadi satu dan justru membuat jantung Sehun terasa berhenti berdetak. “Umm,sama sepertimu tuan Oh. Dan, yang lainnya aku hanya ingin tetap seperti ini..”

“Jawabanmu ambigu –jelaskan saja detilnya.”protes Sehun tak puas dengan jawaban temannya itu. “yah –kau tau pasti kita akan mendapatkan kampus yang berbeda –dan kau bertemu dengan banyak wanita yang lebih cantik dariku dan lebih pintar tentu saja. Dan aku tak bisa lagi menyontek padamu. Aku fikir akan banyak yang berubah tapi –aku hanya tidak ingin semua ini berubah.” Jawaban Arial membuat Luhan hanya menepuk bahu Arial pelan dan Sehun yang masih tak mengerti memandang gadis itu dalam bisu dan lagi –lagi jawaban Arial membuat Sehun tak dapat berucap apalagi marah. Luhan kemudian mengambil alih topik membuat Arial kembali fokus pada Luhan. “Arial aku akan mengatakan sesuatu padamu. Jadi –‘ Luhan menggantung kata-katanya membuat Arial membentuk sebuah kerut didahinya begitu juga Sehun yang merasa tak nyaman dengan situasi itu.Seakan-akan dirinya dan Luhan sedang bersaing untuk mendapatkan perhatian Arial hanya saja Sehun kalah karena tak dapat berucap apa-apa lagi. “Eo, oppa?”

Lagi-lagi Luhan mengenggam dengan erat tangan Arial, kali ini gadis itu menatap Luhan serius namun penuh tanya, Sehun menyadari bahwa gadis itu benar-benar tulus pada Luhan namun seperti bingung akan sesuatu entah apa. “Aku akan menetap di Korea mulai sekarang. Paling lama 1 tahun, dan secepatnya 6 bulan..” pungkas Luhan langsung ke inti. Arial menganga tak percaya  “Oppa –jadi-kau akan tinggal dan hidup disini begitu, bersamaku?” tanya gadis itu memecahkan suasana yang sempat canggung tadi. “Bingo!” tanggap Luhan jenaka. Sementara Sehun memundurkan kakinya selangkah, ini benar-benar diluar dugaannya bahwa Luhan akan mengatakan hal semacam itu lelaki itu bahkan ingat jelas bahwa kakanya itu tak mengatakan apa-apa soal menetapnya dia di Seoul. “Jadi –kau akan tinggal di rumah dan mengurus Ohesang? Bagaimana dengan ibumu?” tanya Sehun mengambil alih pembicaraan.  “Akan aku urus kepulangannya ke Cina, hanya aku yang disini..” jelas Luhan tanpa beban, namun buat Sehun itu terasa berat karena Arial pasti tidak akan fokus untuk belajar –namun itu hanya segelintir alasan dan banyak alasan lainnya lagi  yang tak dapat ia jabarkan mengapa ia merasa berat dengan berita yang seharusnya menggembirakan untuknya.

Alih –alih mendapatkan sebuah notifikasi spam untuknya membuat punya alasan baik untuk memilih pergi dari sana. “Hyung –Arial, maafkan aku tapi tiba-tiba saja aku ada urusan. Sampai nanti.” Ujar Sehun tanpa memerdulikan lagi jawaban kedua orang itu, ia berjalan cepat dan memanggil taksi dan berlalu begitu saja, bahkan ketika taksi mulai melaju lelaki itu tak berani untuk menoleh kebelakang, Sehun merasa seperti dadanya sakit tanpa alasan.

 

**

Sehun side’s

Ada beberapa momen dimana perasaanku tak tetap dan membuat jantungku seakan berhenti berdetak karena terlalu cepat berdebar. Masih bisa dihitung pakai jari dimana aku bisa mengontrol perasaanku yang terasa aneh karena aku tak dapat menjelaskannya dengan kata-kata. Dan, kali ini ku rasa ini semakin parah dan jantungku bisa benar-benar berhenti untuk berdetak jika aku harus berada diantara mereka lebih lama lagi, jadi, aku mengalah dan pergi. Meski rasanya, aku ingin menariknya membawa pergi bersamaku namun alasan aku bukan siapa-siapa bahkan bukan apa-apa untuknya membuatku tak dapat melakukan itu.

Dan masa-masa itu adalah,

saat aku melihat gadis itu menangis akibat orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan, lain waktu ketika gadis itu menahan tangisnya saat tak sengaja melukai kakiku  saat olahraga di kelas 1 SMA,ada juga saat ia tertawa terpingkal akibat candaan Seokmin saat studi pariwisata, saat  ia marah padaku ketika tak sengaja aku melapor bahwa gadis itu memakai sepatu di kelas dan ia mendapat hukuman dan yang terakhir adalah kejadian beberapa menit lalu dimana gadis itu terlihat bingung dengan apa yang ia rasakan, dan saat yang sama jantungku seakan berhenti berdetak.

Sehun side’s end

Dalam hati, Sehun membuat sebuah harap. Dimana langit dan udara dingin yang membekukan kulitnya menjadi saksi bisu harapannya yang sederhana seperti berbisik pada angin yang membuat daun-daun terjatuh namun daun tak dapat membenci angin.

Harapan yang egois dan kejam.

.

.

.

.

Harapan agar Arial, gadis –itu tak diperbolehkan menjadi milik orang lain.

Harapan agar gadis itu memang diciptakan hanya untuk orang arogan tak berekspresi seperti Oh Sehun.

Dan Tuhan,

,

,

tak mengizinkan itu terjadi untuk sekarang.

 *BERSAMBUNG*

 

Advertisements

One thought on “[Chapter #8]Everything has Changed: LOST?”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s